Assalamualaikum wr. wb
Apa kabar sobat semua,
Tembang macapat tentu sudah tidak asing ditelinga kita apalagi bagi pegiat sastra jawa. Macapat adalah puisi jawa bertembang. Setiap baitnya mempunyai baris kalimat yang disebut sebagai gatra, sedangkan satu sama lain memiliki beberapa suku kata yang berakhir di bunyi sajak, yakni guru lagu. dilihat dari periodisasinya, macapat masuk dalam puisi jawa baru.
Tembang macapat sering dilantunkan pada beragam kegiatan bak wungon
tirakatan bagi masyarakat Jawa saat kelahiran bayi maupun upacara bayi
di kediaman seseorang yang telah melahirkan buah hatinya. Secara tradisional, macapat memiliki 15 pakem. namun, secara umum macapat hanya memiliki 11 pola metrum. Sesuai pakem itu, dikenal 11 tembang macapat yakni maskumambang, mijil, sinom, kinanthi,
asmaradana, gambuh, dhandanggula, durma, pangkur, megatruh, dan pucung.
Kesebelas tembang macapat itu menggambarkan perjalanan kehidupan
manusia. Masing-masing tembang macapat sesuai pola metrum punya makna falsafah
tersendiri. Mulai dari makna tentang alam ruh manusia sebelum
dilahirkan, fase manusia lahir, tumbuh, mengenal cinta, sampai pada
manusia meninggal dunia dan kembali ke alam ruh.
berikut jenis tembang macapat
1. Maskumambang
Maskumambang menceritakan tentang keadaan manusia saat masih di alam ruh
yang kemudian ditanamkan dalam rahim atau gua garba seorang ibu. Ia belum diketahui mengenai jati dirinya apakah akan lahir dengan
jenis kelamin perempuan atau laki-laki, sedangkan kata maskumambang
berasal dari kata mas yang berarti jenis kelaminnya belum bisa diketahui
dan kumambang yang artinya hidupnya masih bergantung dalam rahim atau
kandungan sang ibu.
2. Mijil
Pola metrum ini merupakan ilustrasi dari proses kelahiran manusia. Mijil atau mbrojol dan keluarlah jabang bayi bernama manusia. Tembang ini merupakan gambaran atas dimulainya kisah hidup manusia yang masih memerlukan bantuan maupun perlindungan.
3. Sinom
Sinom berarti penggambaran masa muda. Masa muda yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan. sedangkan ia tengah mencari jati dirinya dan bertanya tentang dirinya
sendiri untuk menemukan sosok panutan terhadap diri sendiri.
4. Kinanthi
Kinanti berasal dari kata kanthi atau tuntun yang bermakna bahwa kita
membutuhkan tuntunan atau jalan yang benar agar cita-cita kita bisa
terwujud. tembang ini mengisahkan kehidupan seseorang yang masih membutuhkan
bantuan untuk ditutup supaya bisa melewati kehidupan lebih baik, serta
menuntunya untuk memahami beberapa adat maupun norma yang dijunjung
tinggi dalam lingkungan masyarakat.
5. Asmarandana
asmara artinya cinta, sehingga ilustrasi pola metrum ini mengisahkan akan masa-masa kisah asmara, percintaan, atau larut dalam lautan kisah cinta. Asmarandana selalu disebut sebagai lagu kasmaran dan digunakan seseorang
untuk menyampaikan perasaan cintanya kepada pujaan hatinya, sedangkan
tembang ini juga bisa dipakai untuk lagu duka lantaran patah hati maupun
kecewa, serta harapan kepada pasangan hidupnya.
6. Gambuh
Awal kata gambuh adalah jumbuh atau bersatu. Jadi pola metrum ini
menceritakan soal komitmen dalam perkawinan untuk menyatukan cinta dalam
satu biduk rumah tangga. Karakter tembang ini mengenai persahabatan serta keramahan dan menjelaskan kisah kehidupan seorang manusia.
7. Dhandhanggula
Kata dhandhanggula berasal dari kata gegadhangan yang berarti harapan, angan atau cita-cita. Sedangkan gula memiliki makna berupa indah, menyenangkan, atau manis. Gambaran pola metrum ini, yakni kehidupan yang telah mencapai tahap
kemapanan sosial serta kesejahteraan, cukup sandang, papan, dan pangan.
8. Dhurma
Dhurma berasal dari kata darma. Pola metrum ini menggambarkan bahwa
seseorang sedianya harus melakukan sedekah dan berbagi kepada sesama. Tembang ini menjelaskan mengenai seseorang yang memperoleh kenikmatan dari tuhan. jadi, jika sobat mendapat nikmat dari tuhan atau mendapat rizqi yang berlebih jangan lupa untuk bersedekah sebagai bentuk rasa syukur terhadap Allah SWT.
9. Pangkur
tembang ini menggambarkan hawa nafsu manusia. Pangkur atau mungkur memiliki arti menyingkirkan hawa nafsu dan angkara murka, serta nafsu negatif yang menggerogoti jiwa. Tak hanya itu, tembang ini selalu menjelaskan tentang seseorang yang
sudah berusia senja lantaran orang tersebut telah memulai untuk
meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi, serta memberikan nasihat
kepada semua orang.
10. megatruh
Megatruh atau megat roh berarti terpisahnya nyawa dari jasad kita,
terlepasnya ruh atau nyawa menuju keabadian. Jadi pola metrum ini
mengisahkan tentang kematian manusia. tembang ini mengisahkan dimana nyawa kita terpisah dengan jasad kita.
11. Pucung
Pucung berarti pocong atau jasad kita yang dibungkus dengan kain mori putih. Pola metrum ini menceritakan tubuh manusia yang hanya menyisakan jasad
yang dibungkus kain kafan saat dikuburkan di tempat peristirahatan
abadi.
KESIMPULAN
Tembang macapat mengisahkan tentang perjalanan hidup kita semua dari sejak dalam kandungan sampai kita meninggal dunia. tembang macapat yaitu:
1. maskumambang = mengisahkan kita saat dialam ruh dan dalam kandungan ibu
2. mijil = mengisahkan kelahiran manusia
3. sinom = menggambarkan masa muda
4. kinanthi = menggambarkan kita yang masih membutuhkan bantuan untuk mewujudkan cita-cita
5. asmarandana = mengisahkan kisah percintaan manusia
6. gambuh = mengisahkan manusia dalam pernikahan
7. dhandhanggula = disini manusia sudah mulai mapan bisa mencukupi kebutuhan sendiri
8. dhurma = mengisahkan manusia dalam bersedekah
9. pangkur = kita sudah menginjak usia senja
10. megatruh = mengisahkan kematian manusia
11. pocung = mengisahkan manusia yang sudah meninggal dan dibungkus kain mori putih.
Sekian artikel dari saya semoga dapat bermanfaatbagi kita semu.
apabila ada kesalahan dan kekurangan mohon dimaafkan dan kritik dan sarannya bisa ditulis di komentar. Terima kasih.
wassalamualaikum wr. wb